Rontok Bulu Pada Itik

RONTOK BULU PADA ITIK
Salah satu penyebab rendahnya produktivitas itik lokal adalah proses molting (rontok bulu) yang menyebabkan periode berhenti bertelur menjadi lebih lama. Susanti et al. (2012a) melaporkan bahwa terdapat korelasi negatif antara lamanya rontok bulu dengan produksi telur dalam satu periode satu tahun, semakin panjang berhenti bertelur menyebabkan produksi telur semakin sedikit. Hal ini tentu saja sangat merugikan peternak, karena itik harus tetap diberi pakan, namun tidak berproduksi.

Selama ini, penanganan rontok bulu dilakukan dari aspek manajemen pakan (Anderson & Havenstein 2007) dan hormonal (Anwar & Safitri 2005). Namun, dampak dari kegiatan ini bersifat sementara karena berkurangnya kejadian rontok bulu tidak dapat diwariskan pada keturunannya. Sehingga perlu dipikirkan pemecahan masalah rontok bulu dari aspek lain, yaitu salah satunya dari aspek genetik. Pengendalian masalah rontok bulu dengan pendekatan secara genetis diharapkan dapat memberikan dampak permanen, karena akan diwariskan pada keturunannya. Langkah awal upaya pengendalian sifat rontok bulu berdasarkan genetik adalah dengan mencari atau menentukan gen pengontrolnya yaitu single major gene atau polygene, pola pewarisannya dan faktor-faktor genetis yang mempengaruhinya. Informasi yang bersifat genetis tersebut sangat berguna untuk memudahkan dalam menyusun program pemuliaan itik selanjutnya.

rontok bulu pada itik

Pada program pemuliaan melalui seleksi telah banyak digunakan marker assisted selection (MAS) sebagai marka gen pengontrol suatu sifat, terutama sifat-sifat penting yang mempunyai nilai ekonomi. Sifat rontok bulu mempunyai nilai ekonomis karena berkaitan dengan berhentinya produksi telur, sehingga gen pengontrolnya perlu diketahui. Apabila marka gen rontok bulu tersebut sudah diperoleh, maka seleksi dengan kriteria sifat rontok bulu pada itik akan lebih akurat, lebih cepat dan lebih efisien karena tidak perlu menunggu ternak berproduksi terlebih dahulu.

Upaya untuk pencarian marka gen rontok bulu pada itik dapat dilakukan melalui pendekatan dengan penggunaan gen prolaktin sebagai kandidat gen yang berperan dalam sifat mengeram pada ayam. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa mekanisme genetis sifat rontok bulu dikontrol oleh gen yang sama dengan sifat mengeram, karena proses fisiologisnya sama-sama terkait dengan kelangsungan produksi telur. Asumsi ini diperkuat oleh Berry (2003) yang menyatakan bahwa munculnya sifat mengeram tampaknya menjadi faktor utama yang menginisiasi terjadinya rontok bulu secara alami.

PENGERTIAN DAN MEKANISME SIFAT Rontok Bulu Pada Itik

Rontok bulu adalah proses lepasnya bulu-bulu secara alami pada unggas betina dewasa selama masa produksi telur, sebagai akibat terdorong oleh tumbuhnya bulu baru. Terjadinya rontok bulu merupakan waktu istirahat bagi ternak unggas dalam menghasilkan telur dan sekaligus melakukan regenerasi pada jaringan saluran reproduksi atau oviduk (Beyer 1998).

Kejadian rontok bulu yang bersifat alami pada unggas ini membuat para peternak berupaya membuat cara agar ternak peliharaannya mengalami rontok bulu secara serempak atau forced molting yang biasanya dilakukan dengan pengambilan pakan dari kandang atau feed withdrawal yaitu memuasakan ternak dengan hanya diberi air minum atau pemberian pakan dengan jumlah yang sangat terbatas dan kualitas rendah (Setioko 2005). Kegiatan forced molting banyak ditentang oleh para pencinta binatang, karena termasuk kegiatan penyiksaan yang merupakan pelanggaran terhadap animal welfare. Hal ini memerlukan upaya dari bidang ilmu lain untuk mengatasi rontok bulu, Salah satunya dari ilmu genetika yang akan memberikan dampak yang lebih permanen.

Setioko (2005) menyatakan bahwa rontok bulu dapat dibagi dua yaitu rontok bulu kecil, apabila bulu badan rontok dan rontok bulu besar, yaitu bila bulu sayap yang rontok. Sebelum rontok bulu besar, biasanya itik akan mengalami rontok bulu kecil terlebih dahulu atau terjadi secara bersamaan. Kadang-kadang, itik langsung mengalami rontok bulu besar tanpa harus melalui rontok bulu kecil. Tanda spesifik pada itik yang akan mengalami rontok bulu yaitu dengan melihat bulu sayap sekunder nomor 12, 13 dan 14, yang akan rontok terlebih dahulu sebelum bulu sayap yang lain.

Kejadian rontok bulu selalu terjadi pada periode berhenti bertelur (Susanti et al. 2012b). Hal ini mungkin sebagai akibat dari mulai mengecilnya organ saluran reproduksi, sehingga tidak ada telur yang dihasilkan (Berry 2003; Park et al. 2004). Tanda-tanda lain yang perlu mendapat perhatian pada itik yang akan mengalami rontok bulu yaitu menurunnya produksi telur. Apabila terjadi penurunan produksi yang drastis, biasanya sampai 20-30%, itik tersebut akan segera rontok bulunya (Setioko 2005). Hal ini terjadi karena pada saat rontok bulu, ovarium unggas mengalami pengecilan yang pada akhirnya akan menyebabkan produksi telur berhenti secara otomatis.

Salah satu faktor pemicu mengecilnya organ saluran reproduksi unggas sehingga produksi telur menurun atau bahkan berhenti bertelur adalah stres (Webster 2000; Duncan 2001). Akibat dari stres tersebut, maka produksi telur akan berhenti, kemudian terjadilah rontok bulu. Mekanisme kejadian stres dengan berhenti bertelur, itik hanya sedikit mengkonsumsi pakan, sehingga bobot badannya berkurang, termasuk menyusutnya jaringan otot dan jaringan lemak. Hal ini menyebabkan kurangnya suplai lemak ke hati sebagai salah satu depot lemak, sehingga ukuran hati menjadi kecil seperti itik-itik dara yang belum bertelur. Penyusutan ukuran hati berdampak pada inaktif ovarium. Penyusutan ovarium menyebabkan tidak ada telur yang diproduksi atau berhenti bertelur dan tidak lama setelah berhenti bertelur, maka rontok bulu terjadi.

Berdasarkan uraian di atas, kejadian rontok bulu dengan produksi telur merupakan urutan kejadian yang dikontrol oleh faktor lain yaitu hormon. Pada proses berhentinya produksi telur terdapat perubahan kerja hormon-hormon reproduksi. Hormon prolaktin yang bekerja untuk pembentukan kerabang telur, pada masa produksi, akan beralih untuk pertumbuhan bulu pada saat berhenti bertelur. Tumbuhnya bulu-bulu baru akan mendorong bulu-bulu lama lepas yang disebut rontok bulu (Webster 2000; Duncan 2001).
Dikutip dari :

“Prolaktin sebagai Kandidat Gen Pengontrol Sifat Rontok Bulu dan Produksi Telur pada Itik”
Triana Susanti
Balitnak Ciawi Bogor
2015

About admin

Check Also

Gurihnya Beternak Bebek Dengan SOC HCS

Gurihnya Beternak Bebek Dengan SOC HCS

Gurihnya Beternak Bebek Dengan SOC HCS:Bebek merupakan hewan penurut, bhkan meraka bisa beris, eemm. Bebek …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *