Perbandingan Produksi Telur Bebek Ratu MA

Perbandingan Produksi Telur Bebek Ratu MA

Saat ini Balitnak telah menghasilkan itik petelur unggul MA (persilangan antara itik jantan Mojosari dengan itik betina Alabio). Itik MA menunjukkan tingkat heterosis yang cukup nyata terutama pada sifat produksi telur dan umur pertama bertelur. Itik MA perlu dikembangkan dan disebarkan untuk mendukung peternakan itik yang intensif dan komersial.

Salah satu lokasi pengembangan dan penyebaran itik MA adalah BPTU (Balai Pembibitan Ternak Unggul) Pelaihari di Kalimantan Selatan, yang merupakan UPT Direktorat Jenderal Peternakan. Di lokasi pengembangan dan penyebarannya, itik MA harus dikontrol dan dievaluasi produktivitasnya agar kualitasnya tidak berubah.

Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui produksi telur dan penyebaran itik MA di wilayah BPTU Pelaihari. 75 ekor itik jantan Mojosari sebagai hasil seleksi generasi ke-2 di Balitnak telah dikirim ke BPTU Pelaihari untuk dikawinkan dengan 400 ekor itik betina Alabio yang telah diseleksi oleh BPTU. Hasil persilangan kedua kelompok itik tersebut kemudian disebarkan ke peternak-peternak di wilayah sekitar BPTU Pelaihari.

Sebagian populasi itik MA tersebut dipelihara di lokasi BPTU sebagai kontrol. Pengamatan yang dilakukan adalah produksi telur per bulan selama 8 bulan, jumlah dan lokasi penyebaran itik MA di wilayah Kalimantan Selatan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa itik MA yang dipelihara di BPTU Pelaihari berproduksi cukup tinggi yaitu sebesar 74,8± 12,9% selama 8 bulan masa produksi. Produksi telur itik MA ini lebih tinggi daripada produksi telur kedua populasi tetuanya. Selain itu, BPTU telah berhasil menyebarkan sekitar 753 ekor itik MA ke-5 daerah di wilayah Kalimantan Selatan yaitu Banjarbaru, Banjarmasin, Liang Anggang, Martapura dan Tanah Laut.

Upaya perbaikan produktivitas itik local Indonesia saat ini sedang dilakukan di Balai Penelitian Ternak Ciawi Bogor, dan telah menghasilkan itik petelur unggul yaitu itik MA yang merupakan hasil persilangan antara itik jantan Mojosari dengan itik betina Alabio. PRASETYO dan SUSANTI (2000) melaporkan bahwa persilangan antara itik jantan Mojosari dengan itik betina Alabio menunjukkan tingkat heterosis yang cukup nyata yaitu 11,69% pada produksi telur 3 bulan. Ditinjau dari umur pertama bertelur, itik MA lebih cepat bertelur daripada kedua tetuanya dan tidak menyebabkan berkurang bobot telur pertamanya.

Hal ini mengindikasikan bahwa itik MA tersebut mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai bibit niaga.Ini didasarkan pada kenyataan bahwa pemanfaatan heterosis telah banyak digunakan untuk menghasilkan bibit niaga terutama pada ayam ras baik petelur maupun pedaging. Itik MA sebagai produk teknologi harus dikembangkan dan disebarkan untuk mendukung peternakan itik yang intensif dan komersial.

Perbandingan Produksi Telur Bebek Ratu MA

MATERI DAN METODE PRODUKSI TELUR BEBEK RATU MA

Sekitar 75 ekor itik jantan Mojosari sebagai hasil seleksi generasi ke-2 di Balitnak telah dikirim ke BPTU Pelaihari untuk dikawinkan dengan sekitar 400 ekor itik betina Alabio hasil seleksi yang dilakukan BPTU di lokasi tersebut. Itik-itik MA sebagai hasil persilangan kedua kelompok itik tersebut kemudian disebarkan ke peternak-peternak di wilayah sekitar BPTU Pelaihari. Namun sebagian populasi itik MA yang dihasilkan oleh BPTU Pelaihari tersebut dipelihara di kandang milik BPTU untuk diamati produksi telurnya dan digunakan sebagai kontrol terhadap kualitas itik MA yang dikembangkan dan disebarkan di wilayah tersebut.

Pakan yang diberikan adalah konsentrat layer khusus Super 36 produksi PT. Japfa Comfeed Indonesia. Komposisi campuran pakan untuk itik petelur adalah 62,7% dedak, 33,3% konsentrat, 2,0% dinamix-LC (multivitamin premix) dan 2,0% padi; dengan jumlah pemberikan pakan sekitar 160 gram per ekor per hari.Pengamatan yang dilakukan adalah produksi telur harian selama 8 bulan. Pengumpulan telur dilakukan setiap pagi sebelum dilakukan pemberian pakan. Telurtelur tersebut dikumpulkan dari semua kandang kemudian jumlah telur semuanya dicatat untuk digunakan sebagai data produksi telur harian yang dinyatakan dalam % duck-day.

Data yang terkumpul dianalisis menggunakan model linear umum menurutpetunjuk SAS (1987). Dalam analisis ini yang menjadi peubah bebas adalah genotipa itik yaitu itik MA, itik Alabio dan itik Mojosari, dengan ulangannya adalah individu itik pada masing-masing genotipa tersebut. Sementara itu, peubah tak bebasnya adalah produksi telurharian yang dinyatakan dalam % duck-day.

HASIL DAN PEMBAHASAN PRODUKSI TELUR RATU MA

Hasil pengamatan terhadap produksi telur itik MA selama 8 bulan di BPTU Pelaihari tersaji pada Tabel 1. Selain itu ditampilkan pula produksi telur itik Alabio dan itik Mojosari yang merupakan populasi tetua dari itik MA.

Pada Tabel 1 tampak bahwa produksi telur itik MA bulan pertama (minggu 1-4) mencapai 81,28% duck-day. Hal ini berarti bahwa itik MA yang dipelihara di BPTU Pelaihari berproduksi hampir serentak sehingga umur produksinya seragam. Dewasa kelamin itik MA yang serentak ini diharapkan dapat meningkatkan total produksi telur selama setahun (NORTH, 1984).

Pada Tabel 1 juga tampak bahwa rataan produksi telur itik MA tertinggi selama 8 bulan pengamatan adalah 86,15% yang dicapai pada bulan ke-2 (minggu 5-8). Cepatnya waktu mencapai produksi telur tertinggi ini berbeda dengan hasil pengamatan KETAREN et al. (2000) yang memperoleh produksi telur tertinggi pada bulan ke-6 masa produksi di kandang percobaan Balitnak. Begitu pula dengan hasil pengamatan PRASETYO et al. (2004) yang memperoleh produksi telur tertinggi pada bulan ke-4 di peternak itik Blitar Jawa Timur.

Ditinjau dari konsistensi produksinya, tampak bahwa itik MA yang dipelihara di BPTU Pelaihari hanya mampu mempertahankan produksi telur di atas 80% selama 3 bulan. Konsistensi produksi ini sedikit berbeda dengan hasil pengamatan KETAREN et al. (2000) dan PRASETYO et al. (2004) yang mencapai konsistensi produksi di atas 80% selama 6 bulan. Hal ini mungkin disebabkan oleh manajemen pemeliharaan terutama pemberian pakan yang kuran terkontrol dalam jumlah maupun kualitasnya.

Tabel 1 Perbandingan Produksi Telur Bebek Ratu MA

Rataan produksi telur itik MA selama 8 bulan pengamatan menunjukkan hasil yang cukup baik yaitu 74,8%. Hasil ini sedikit lebih baik daripada hasil KETAREN dan PRASETYO (2001) yang memperoleh rataan produksi telur itik MA di kandang percobaan Balitnak sebesar 71,2% selama 10 bulan masa produksi dan 57,4% di peternak itik Cirebon.

 Rataan produksi telur itik MA ini juga ternyata lebih tinggi bila dibandingkan dengan rataan produksi kedua galur tetuanya yaitu itik Alabio dan itik Mojosari. Perbandinganproduksi telur ketiga kelompok itik tersebut tertera pada Tabel 1.

Pada Tabel 1 tampak bahwa rataan produksi telur itik MA selama 8 bulan pengamatan lebih baik daripada itik Alabio dan itik Mojosari sebagai galur tetuanya yaitu masing-masing sebesar 74,8%; 57,8% dan 65,3%. Hasil ini relatif hampir sama dengan hasil penelitian PRASETYO dan SUSANTI (2000) yang memperoleh rataan produksi telur itikMA sebesar 74,22% selama 3 bulan pengamatan; itik Alabio 66,14% dan itikMojosari 66,76%.

Perbandingan Produksi Telur Bebek Ratu MA

Produksi telur itik MA yang lebih tinggi dari kedua populasi tetuanya berarti bahwa hasil persilangan itik jantan Mojosari dengan itik betina Alabio ini masih menunjukkan tingkat heterosis yang nyata. Perbedaan produksi telur antara itik MA dengan itik Alabio dan itik Mojosari akan terlihat lebih jelas pada Gambar 1.

Berdasarkan kurva tersebut tampak bahwa produksi dan konsistensi produksi telur itik MA lebih baik daripada itik Alabio dan itik Mojosari. Hal ini berarti bahwa itik MA rnemiliki potensi besar sebagai itik unggul karena mampu berproduksi telur tinggi. Selain itu, itik MA yang tetap memperlihatkan performa produksi telur yang tinggi di lokasi pembibitan BPTU Pelaihari merupakan suatu indikasi bahwa teknologi yang dihasilkan oleh Balitnak ini dapat diaplikasikan di lapangan. Untuk melihat besarnya perbedaan produksi telur itik MA dari produksi telur tetuanya yaitu itik Alabio dan itik Mojosari dilakukan penghitungan heterosis. Nilai heterosis produksi telur itik MA dalam pengamatan ini Tabel 2

Pada Tabel 2 tampak bahwa nilai heterosis produksi telur itik MA selalu menunjukkan angka positif pada semua periode produksi. Hal ini berarti bahwa itik MA selalu menampilkan performa produksi telur yang cukup baik selama masa produksi dibandingkan kedua galur tetuanya yaitu itik Alabio dan itik Mojosari. Rataan nilai heterosis

tabel 2 Perbandingan Produksi Telur Bebek Ratu MA

produksi telur itik MA selama 8 bulan pengamatan adalah 22,13 %. Nilai heterosis ini jauh lebih tinggi daripada hasil pengamatan PRASETYO dan SUSANTI (2000) yang memperoleh nilai heterosis produksi telur 3 bulan pada itik MA sebesar 11,69%.

Terima Kasih sudah membaca artikel Perbandingan Produksi Telur Bebek Ratu MA.

About admin

Check Also

Cara Agar Produksi  Telur Bebek  Bisa Tinggi dan Masa Bertelur Lama


Deprecated: Function create_function() is deprecated in /home/peterna2/public_html/wp-content/plugins/wp-spamshield/wp-spamshield.php on line 2033
Cara Agar Produksi  Telur Bebek  Bisa Tinggi dan Masa Bertelur Lama. Cara Agar produksi telur …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *