Pembibitan Sapi Potong

Usaha pembibitan sapi potong belum banyak yang dilakukan oleh pengusaha di Indonesia. Kebanyakan dinegara kita, pengusaha peternakan lebih banyak bergerak dalam bidang penggemukan, sehingga kita sangat sulit untuk mendapatkan sapi bakalan, walaupun ada itupun dengan harga yang cukup tinggi. Sehingga kita masih banyak bergantung sapi bakalan dari luar negeri khususnya Australia.

pembibitan sapi potong

Pemerintah sudah beberapa kali telah mencanangkan program swasembada daging, namun program ini belum sampai terwujud saat ini. Program swasembada daging sapi ini disebut berhasil, jika kita bisa memenuhi keperluan daging sapi potong dalam negeri. Program swasembada ini dapat terwujud dengan baik dengan meningkatkan jumlah populasi ternak dalam jumlah yang besar.

Sebelum kita memulai usaha pembibitan sapi potong, berikut ini adalah yang harus diperhatikan yaitu:

  1. Pemilihan Bibit

Bibit indukan ataupun pejantan yang dipilih adalah bibit yang mempunyai keunggulan masing-masing, seperti pada usia sapih( berumur sekitar 205 hari), usia muda (berumur sekitar 365 hari), dan yang berusia dewasa (sekitar 2 tahun). Sapi yang unggul tersebut dapat dilihat dari ciri-ciri yang tampak diluar:

  • Warna badan pada sapi sama dengan bangsanya. Misalnya sapi Peranakan Ongole yang berwarna putih
  • Kesesuaian, bentuk, dan ukuran antara kepala, leher, dan tubuh ternak.
  • Tingkat pertumbuhan bobot badan harian (PBH) pada saat sapi berumur tertentu.
  • Tidak mempunyai cacat tubuh yang bersifat bawaan atau menurun.
  • Untuk penjantan, testes sapi yang berusia delapan belas(18) bulan harus simetris, menggantung.
  • Secara normal sapi dalam keadaan sehat. Ini bisa kita lihat dari matanya yang nampak cerah, geraknya lincah, namun si sapi tidak liar. Serta tidak menampakkan tanda-tanda yang aneh atau tidak wajar pada organ reproduksinya.

Pemilihan Bibit Sapi Secara Khusus:

Sapi Induk:

  • Sapi induk harus bisa melahirkan anak secara teratur, kuran dari 14 bulan (<14 bulan)
  • Turunannya anak sapi jantan, maupun betina tidak cacat
  • Kegiatan Reproduksi Normal.

Calon Pejantan

  • Memiliki catatan bobot sapih 205 hari diatas rata-rata, dan memiliki tingkat perumbuhan bobot harian(PBH) umur 1-1,5 diatas rata-rata.
  • Memiliki libido dan mutu ****** yang baik.

Calon Induk

  • Memiliki bobot sapih (205 hari) dan berat badan pada usia 12 bulan diatas rata-rata.
  • Penampilan fenotipe (f1)/ turunan anak sapi sesuai dengan kelas dan bangsa sapi
  • Usia diatas 12 bulan.
  • Estrus pertama usia 14 bulan, jadi kawain pertama pda usia 18 bulan, pada bobot badan >230 Kg.
  1. Manajemen Perkawinan Pembibitan Sapi Potong

Hasil usaha pembibitan sapi potong dapat dilihat dari jumlah anak yang sudah dilahirkan sebagai tolak ukurnya. Sapi betina yang telah melahirkan, dapat dikawinkan lagi sesudah 40 hari, dan sudah memunculkan gejala-gejala birahi

Ciri-ciri Sapi sedang birahi adalah:

  • Vulva nampak bengkak, merah, dan hangat
  • Keluar lender bening dari kemaluannya.
  • Sapi dalam keadaan gelisah, seperti menaiki sapi lain atau kandang.
  • Jika dinaiki sapi jantan akan diam,

Tingkat berahi tertinggi biasanya terjadi pada waku tengah malam, yaitu sekitar 45%, namun pad siang hari hanya 10%.

Saat yang tepat untuk mengawinkan sapi:

Saat birahi pertama terlihat Saat Kawin Tepat Saat kawin terlambat
Pagi Hari Malam hari pada hari yang sama Pada hari berikutnya
Malam Hari Pagi hari, pada hari berikutnya Setelah pukul 15.00 hari berikutnya

Untuk perkembiakan sapi potong, dapat dilakukan dengan dua cara yakni: secara alami, dan Inseminasi Buatan(IB).

Tiga Cara Perkawinan Secara Alami:

1. Perkawinan di kandang Individu

Pada tipe ini, sapi betina diikat, dan sapi penjantan dimasukkan ke dalam kandang tersebut.

2 Tipe pada Kandang Kelompok

Biasanya tipe kandang ini, dilengkapi dengan lingkungan atau kawasan terbuka untuk umbaran. Sapi-sapi ini dibiarkan lepas. Perbandingan antara sapi jantan, dan betina adalah 10:1 . Selanjutnya setelah perkawinan dua bulan, kita akan melakukan pemeriksaan kebuntingan dengan system palpasi rektal

3. Tipe Pengembalaan

Model perkawinan ini adalah dengan cara pengembalaan di areal tertentu. Jumlah sapi betina dan jantan antara 100:3. Selanjutnya sesudah dua bulan dilakukan pemeriksaan kehamilan dengan cara palpasi rektal. Sapi betina yang bunting perlu dipisahkan dan diletakkan pada kandang tertentu, sehingga memudahkan dalam pemberian pakan yang berkualitas, seperti pakan yang berprotein tinggi.

Inseminasi Buatan Di Pertenakan

Inseminasi Buatan(IB) dilaksanakan jika induk sapi betina sudah menampakkan tanda-tanda birahi. Saat yang tepat agar dilakukan IB dapat kita lihat pada table diatas. Induk sapi betina yang akan di IB ditempatkan di kandang tertentu, misalnya kandang dari bambu, kayu, atau dari besi.

About admin

Check Also

Pemanfaatan Rumput Ruzi Sebagai Pakan Ternak-1

Pemanfaatan Rumput Ruzi Sebagai Pakan Ternak

Pemanfaatan Rumput Ruzi Sebagai Pakan Ternak Rumput Brachiaria merupakan salah satu rumput padang penggembalaan yang …

2 comments

  1. Hallo, perkenalkan saya Ina, saya sangat tertarik sekali dalam dunia peternakan maka dari itu saat ini saya ingin mempelajari bagaimana suatu peternakan itu berjalan. Saya sedang mencari tahu segala prosesnya untuk membuat project saya di Indonesia dalam membuat peternakan. Project ini akan saya presentasikan kepada orangtua angkat saya disini (Prancis) agar mereka setuju dan memperbolehkan saya masuk ke sekolah peternakan. Tujuan saya masuk sekolah peternakan di Prancis, agar saya bisa belajar tentang peternakan modern dan bisa saya aplikasikan di Indonesia. Dan untuk membuat project itu saya masih kekurangan bahan dan pengetahuan tentang peternakan di Indonesia. Saya berharap bisa berkonsultasi dan berdiskusi mengenai hal ini. Terima kasih dan saya sangat berharap dan menunggu jawabnya.

    Dengan hormat,
    Ina Diana

  2. Perlu strategi breeding untuk menghasilkan bibit-bibit yang berkualitas, adaptif dan tahan penyakit, jelasnya di sela-sela workshop Arah dan Kebijakan Pembibitan Sapi Nasional .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *