Contoh Cara Menyusun Ransum Sapi Bali

Penyusunan Ransum Sapi Bali

Sebelum membahas cara menysusun ransum sapi bali, sebagai peternak sudah semestinya juga mengatahu komposisi bahan pakan ternak. Sapi bali yang dilahan persawaan dalam kehidupannya lebih banyak memakan rumput dibandingkan semak dan pohon, sedangkan yang dipelihara di lahan kering, secara persentase lebih banyak memakan semak dan pohon.  Sapi bali pejantan jika dibandingkan dengan yang betina, lebih banyak memakan rumput.  Begitu pula pada musim hujan sapi bali lebih banyak makan rumput, sedangkan semak dan pohon konsumsinya meningkat pada musim kemarau.  Secara umum apabila dilihat komposisi pakan sapi Bali, terdiri atas rumput (78%), leguminosa (3%), semak dan pohon (15%), jerami (2%), batang pisang (1%) dan lainnya (1%).

Komposisi Bahan (%) Pakan Sapi Bali di Bali

No Jenis Pakan Musim Pemantaatan Lahan Klasifikasi Sapi
Hu

jan

Kema

rau

Sa

wah

Tegalan Ke

bun

Pe

det

Ke

biri

In

duk

Pejan

tan

1 Rumput 79 49 85 70 80 78 78 72 80
2 Leguminosa 2 1 0 2 0 2 0 0 0
3 Semak dan Pohon 14 32 6 23 15 11 17 20 9
4 Jerami 2 6 3 1 1 5 2 2 3
5 Batang Pisang 1 9 2 2 1 0 1 2 3
6 Lainnya 2 3 4 2 2 4 2 4 5

Pakan untuk sapi Bali yang dikandangkan mesti selalu terseia sepanjang hari.  Pakan itu akan lebih diminati sapi bila sebelumnya telah dilayukan, karena pakan yang memiliki aroma yang membuat selera makan sapi turun  telah menguap.  Untuk itu pakan mesti dikumpulkan sehari sebelumnya (sore) untuk diberikan keesokan harinya.

Untuk mengurangi pakan yang tercemar akibat ulah sapi yang kerap memilih pakan, sebaiknya diberikan dua kali, pada pagi dan sore hari.  Kebiasaan memberikan pakan dua kali ini akan membuat peternak lebih sering bertemu dengan sapinya, karena bila terjadi perubahan prilaku ternak akibat sakit, birahi atau beranak peternak akan segera mengetahiu.  Dalam pemilihan pakan ternak sapi, selain zat yang terkabdung di dalammnya, perlu juga dipartimbangkan sifat biologi bahan pakan yang akan diberikan seperti : tekstur, palatibilitas (enak tidaknya) dan daya cernanya.

Sebagai contoh jagung giling yang kasar relative lebih sukar dicerna oleh sapi jika dibandinghkan dengan jagung giling yang lebih halus.  Bahan pakan yang rusak, tengik ataupun kurang enak tentu akan disisihkan oleh sapi atau terbuang percuma karena sapi tidak mau makan bahan pakan yang telah rusak.  Demikain pula bahan pakan kasar seperti jerami akan sulit dicerna oleh sapi sebab zat makanan dalam jerami tertutup oleh dinding sel yang sukar dicerna oleh sapi.  Bahan pakan yang sukar dicerna sebaiknya diberi perlakuan khusus sebelum diberikan kepada sapi.

 Bahan Pakan Hijauan.

Sapi Bali dapat diberikan pakan dalam tiga jenis yaitu : pakan hijauan, pakan konsentrat (penguat), dan pakan tambahan.  Bahan hijauan dapat diberikan pada sapi Bali dalam bentuk segar dan kering atau dikeringkan.  Bahan pakan hijauan juga dapat dikelompokkan menjadi dua macam yaitu rerumputan dan jenis daun-daunan.  Pakan jenis jenis rerumputan dapat berupa rumput lapangan (lokal) dan rumput unggul seperti rumput gajah, rumput setaris,  rumput benggala dan lain sebagainya.  Rerumputan umumnya mengandung banyak karbohidrat tinggi, tetapi mengandung sedikit protein.

Pakan jenis dedaunan dapat berasal dari kacang-kacangan (leguminosa) dan nonleguminosa,  Pakan jenis dedaunan yang yang berasal dari leguminosa umumnya lebih disukai olah sapid an juga memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan pakan yang berasal dari nonleguminosa maupun dari rerumputan.  Dedaunan yang sering diberikan pada sapi Bali antara lain daun dadap, daun gamal, daun kayu santen, daun  kaliandra, daun belalu/albezia, daun lantoro, daun turi, daun bunut, daun waru, daun nangka dan lain-lainnya.

Jumlah pakan hijauan segar yang diberikan pada sapi, baik baik berupa rerumputan maupun dedaunan, tergantung dari bobot sapi.  Sapi bali dengan bobot 300 kg biasanya diberikan pakan hijauan dalam bentuk segar sebanyak 30 kg/hari atau 10% daribobot badannya.  Hijauan segar sebaiknya berasal dari berbagai jenis hijauan, sehingga kebutuhan sapi akan zat makanan dapat terpenuhi.   Sebagai contoh sapi Bali dengan berat 250 kg yang diberikan hijauan dengan komposisi 70% rumput gajah dan 30% daun gamal kebutuhan akan protein, kalori dan energi metaboliknya dapat terpenuhi sehingga sapi dapat tumbuh dengan baik.

Pakan hijauan kering atau dikeringkan dapat berupa jerami dan dedaunan yang dikeringkan.  Jerami ialah hasil ikutan pertanian seperti padi, kacang tanah, kedelai, dan jagung yang berupa batang, daun dan ranting.  Sedangkan hijauan kering adalah hijauan jenis rerumputan yang sengaja ditanam dan dipanen saat menjelang berbunga dan langsung dikeringkan.

 Bahan Pakan Konsentrat (Penguat) Sapi Bali      

 Sebagai ternak perintis,  sapi Bali mampu beradaptasi dengan berbagai jenis pakan kasar yang bergizi rendah, seperti jerami padi dan rumput kering.  Meskipun tidak mencapai maksimal, sapi Bali dapat tumbuh dengan baik jika sapi ini hanya diberi rerumputan dan dedaunan terutama pada musim hujan ketika hijauan tersedia dalam jumlah yang berlimpah.  Keadaan ini secara ekonomis sangat menguntungkan peternak.

Untuk mencapai pertumbuhan yang lebih baik, sapi Bali perlu diberi pakan penguat terutama pada musim kemarau ketika persediaan hijauan berkurang, dan nilai gizi hijauan menjadi sangat rendah.  Dengan pemberian pakan kosentrat, nilai gizi pakan dapat diperbaiki.   Pemberian konsentrat  pada saat persediaan hijauan berlimpah, yaitu pada musim hujan  dapat mempercepat pertumbuhan sapi Bali dengan tambhan bobot badan selama fase penggemukan bias mencapai 600-800 kg/ekor/hari.

Kosentrat atau pakan penguat merupakan jenis pakan bergizi tinggi dengan kandungan serat kasar yang relative rendah, sehingga lebih mudah dicerna dibandingkan hijauan.  Pada sapi Bali, pakan kosentrat biasanya berupa dedak padi, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, gaplek (ketela pohon) dan sebagainya.  Harga bahan pakan kesentrat relative lebih mahal dibandingkan harga bahan hijauan.  Pada saat hijauan tersedia dalam jumlah yang berlimpah, pemberian kosentrat perlu dipertimbangkan secara ekonomis, karena pemberian kosentrat yang terlalu tinggi secara ekonimi sering tidak menguntungkan.

 Bahan Pakan Tambahan.

Walaupun telah diberi pakan berupa hijauan dan/atau kosentrat yang telah mengandung zat makanan yang memenuhi kebutuhannya, sapi Bali masih sering menderita kekurangan vitamin, mineral dan bahkan protein,  Keadaan ini dapat mengganggu pertumbuhan atau kesehatan sapi Bali sehingga untuk mengatasinya sapi dapat diberikan pakan tambahan.

 Vitamin biasanya diberikan dalam  bentuk pakan tambahan/feed supplement berupa minyak ikan yaitu untuk memenuhi kekurangan vitamin A dan Vitamin D.Kekurangan mineral, khususnya Ca, P dan NaCl pada pakan ternak , dapat dipenuhi dengan pemberian tepung tulang, tepung kapur (CaCO3) dan garam dapur (NaCl).

Kekurangan protein sering terjadi bila sapi Bali hanya diberi pakan berupa jerami atau atau rumput kering yang berkadar protein rendah, maka untuk memenuhinya ke dalam pakan perlu ditambahkan urea.  Pemberian urea dapat menguntungkan karena sebagi hewan rumenansia, sapi Bali mampu mengubah sumber nitrogen nonprotein menjadi protein.  Selai itu, bahan pakan berprotein tinggi seperti tepung daging, tepung ikan harganya cukup mahal.Akan tetapi, pemberian urea pada sapi Bali perlu kehati-hatian sebab pemberian urea yang berlebihan dapat menyebabkan keracunan.  Sebagai pedoman kadar urea dalam pakan tidak boleh melebihi 1% dari jumlah pakan atau 20 gram per 100 kg bobot badan sapi Bali.

Contoh Cara Menyusun Ransun Sapi Bali

Pemberian pakan pada sapi Bali oleh peternak tradisional biasanya hanya memperhatikan jumlah atau volume pakan tanpa banyak memperhatikan kandungan zat makanan  pakan yang diperlukan sapi.  Sapi Bali yang dilepas di padang penggembalaan secara selektif dapat memilih jenis pakan yang secara alamiah dapat memenuhi kebutuhan akan zat gizi.  Akan tetapi, sapi Bali yang dikandangkan komposissi pakan perlu diatur agar memenuhi nilai gizi yang diperlukan.

Penyusunan ransum sapi bali baik untuk penggemukan, pertumbuhan, menyusui dan  bunting harus disesuaikan  dengan kebutuhan ternak itu akan bahan kering (BK), total Digestible  nutrient (TDN), protein kasar (PK), metabolic energy (ME),  calsium (Ca) dan phosphor (P). Contoh komposisi bahan pakan seperti Tabel 2.2.  Sementara itu, kebutuhan ternak akan bahan kering, dan pakan kasar, ME, Ca dan P tergantung dari jenis kelamin ternak, umur ternak, dan tujuan pemeliharaan dan contoh terlihat pada tabel di bawah ini

Komposisi Bahan Pakan Ternak untuk menyusun ransum sapi bali

N0. Nama Bahan BK

(%)

PK

(%)

TDN

(%)

ME

(Mcal/kg)

Ca

(%)

P

(%)

 

1 Jerami Kacang Tanah 38,1 15,2 63,3 2,37 1,40 0,20
2 Jerami Kedelai 86,0 16,6 56,0 2,03 1,20 0,31
3 Jerami Padi 40,0 4,3 39,5 1,53
4 Daun Lantoro 29,1 23,2 63,1 2,70 2,20 0,31
5 Rumput Benggala 40,0 4,9 45,3 1,61 0,25 0,26
6 Rumput Gajah 15,7 11,4 53,1 1,89 0,70 0,40
7 Rumput Panicum maxsimum 40,0 4,9 45,3 4,61 0,25 0,26
8 Dedak Padi 86,0 14,0 87,6 3,32 0,10 0,80
9 Bungkil Kelapa 86,0 21,6 78,0 2,85 0,16 0,72

Sumber : Tellman, A.D dkk Ilmu Pakan Ternak Dasar

Kebutuhan Nutrisi Sapi Bali

Bobot Sapi

Bali

Tambahan

Bobot

Makan-an BK Makanan Kasar PK

(%)

TDN

(%)

ME

Mcak/kg

Ca

(%)

P

(%)

150 Jantan 0,0

0,7

2,8

3,9

100

55

8,7

12,6

55

70

2,0

2,5

0,18

0,46

0,18

0,36

200 Jantan 0,0

0,7

2,8

5,7

100

75

8,7

10,5

55

64

2,0

2,3

0,18

0,23

0,18

0,28

150 Betina 0,0

0,5

2,8

4,1

100

75

8,7

11,0

55

61

2,0

2,2

0,18

0,34

0,18

0,29

200 Betina 0,0

0,5

3,5

6,0

100

75

8,5

10,2

55

64

2,0

2,3

0,18

0,32

0,18

0,27

300-400 Bunting 10,5 85 5,9 56 1,9 0,21 0,20
300-400 Menyusui 10,8 85 10,9 55 2,0 0,24 0,38

 Misalnya, jika di kebun tersedia rumput Benggala dan daun lantoro dan saat itu terdapat sapi bunting dengan berat 300 kg.  Bila sapi itu diberikan pakan yang terdiri atas 70% rumput benggala dan 30% daun lantoro, maka susunan ransom kita adalah :

Sapi Bali bunting memerlukan pakan dalam bentuk BK sebanyak = 10,5 kg

Perhitungan BK :

Rumput benggala  = 70/100 x 10,5 = 7,35 kg

            Daun Lantoro        = 30/100 x 10,5 = 3,15 kg

Perhitungan Berat Basah

Rumput benggala  = 100/40 x 7,35 = 18,375kg

Daun Lantoro        = 100/29 x 3,15 = 10,825 kg

Susunan Ransum sapi Bali Bunting Bertat 300 Kg.

No, Nama

Bahan

Berat

Bahan (kg)

BK

(kg)

PK

(kg)

TDN

(kg)

ME

(Mcal)

Ca

(kg)

P

(kg)

1 Rumput

Benggala

18,375 7,35 0,36 3,33 11,834 0,0184 0,0191
2 Daun

Lantoro

10,825 3,15 0,73 1,99 8,505 0,0193 0,0098
Total 29,200 10,5 1,09 5,32 20,339 0,0877 0,0289
Yang Diperoleh 10,5 10,40% 50,7% 1,9Mcal/kg 0,83% 0,28%
Standar Gizi 10,5 5,90% 56,0% 1,9Mcal/kg 0,21% 0,30%

 Susunan ransum sapi Bali bunting yang beratnya badanya 300 kg dengan komposisi pakan rumput benggala 70% dan daun lantoro 30% telah mendekati standar gizi ternak itu.  Kadar protein : 1,09/10,5 x 100% =  10,40 lebih tinggi dari standar 5,9%, demikian juga Ca yang diperoleh : 0,0877/10.5 x 100% = 0,83% lebih tinggi dari yang dibutuhkan yaitu 0,21%. Kadar TDN yag diperoleh : 5.32/10,5 x 100% = 50,7% lebih rendah dari yang dibutuhkan yaitu 56%, tetapi ME yang diperoleh : 20,339/10,5 = 1,9 Mcal.kg tepat sama dengan yang dibutuhkan yaitu 1,9 Mcal/kg.

Untuk memperbaiki susunan ransom di atas, yang perlu dilakukan adalah menurunkan PK dan Ca, dan meningkatkan TDN dengan pemberian pakan kosentrat.  Dalam hal ini, kadar PK lamtoro cukup tinggi yaitu 23,2% (Tabel 2.2), sehingga porsi daun lantoro diturunkan menjadi 15%.  Jika 15% daun lantoro diganti dengan dedak padi dan bungkil kelapa, maka bahan kasar pakan menjadi 85%

TDN yang diperlukan dari dedak padi dan bungkil kelapa = 15/100 x 10,5 = 1,575

Jadi :

BK rumput benggala     = 7,35 kg

            BK daun lantoro            = 3,15 – 1.575 = 1,575 kg

            TDN rumput benggala   = 3,33 kg

            TND daun lantoro          = 53,1/100 x 1,575 = 0,994 kg

            Kekurangan TDN          = (56/100 x 10,5 –(3.33 + 0,994)

                                                   = 5,88 – 4,324 = 1,556 kg

            Persentase kekurangan   = 1,556/1.575 x 100% = 98,79%

   contoh ransum sapi bali

            BK dedak padi         = 20.79/31.98 x 1.575 = 1,024 kg

            BK bungkil kelapa   = 11,19/31,98 x 1,575 = 0,551 kg

Jadi dibutuhkan :

      Dedak padi               = 100/80 x 1,024 = 1,191 kg

      Bungkil kelapa         = 100/80 x 0,551 = 0,641 kg

 Susunan Ransum Sapi Bali Bunting dengan Empat Bahan Baku Pakan

No, Nama

Bahan

Berat

Bahan (kg)

BK

(kg)

PK

(kg)

TDN

(kg)

ME

(Mcal)

Ca

(kg)

P

(kg)

1 Rumput

Benggala

18,375 7,350 0,36 3,33 11,834 0,0184 0,0191
2 Daun

Lantoro

5,412 1,575 0,365 0,994 4,325 0,00346 0,005
3 Dedak Padi 1,191 1,024 0,143 0,897 3,3997 0,0010 0,008
4 Bungkil Kelapa 0,641 0,551 0,119 0,430 1,570 0,055 0,004
Total 25,619 10,5 0,987 5,651 21,055 0,055 0,0361
Yang Diperoleh 10,5 9,4% 53,8% 2,0Mcal/kg 0,52% 0,34%
Standar Gizi 10,5 5,90% 56,0% 1,9Mcal/kg 0,21% 0,30%

Berdasarkan pakan baku yang tersedia baik itu berupa hijauan maupun kesentrat dalam memberikan pakan ternak sapi Bali kita harus susun ransum sedemikian rupa, sehingga terpenuhinya standar gizi yang diperlukan oleh ternak tersebut.  Pemilihan pakan ternak disamping berdasarkan harga pakan atau kemudahan mendapatkan pakan tersebut, maka sangat perlu diperhatikan nilai gizi dari pakan tersebut.

Pemilihan pakan sapi Bali di musim kemarau perlu mendapat perhatian khusus, karena pada saat musim kemarau pakan ternak sapi sering habis persediaannya, sehingga peternak harus membeli bahan pakan ternak dari daerah lain, baik itu brupa hijauan segar maupun jerami.  Sebagai contoh bila tersedia 2 jenis jerami di pasaran yaitu jerami kacang kedelai dan jerami padi, sebaiknya dipilih jerami kacang kedelai, karena jerami kacang kedelai nilai gizinya mendekati 2 kali lipat dibandingkan jerami padi.

About admin

Check Also

pakan sapi bali

Pakan Sapi Bali Yang Perlu Diketahui

Pakan sapi Bali: Keberhasilan usaha peternakan sapi, baik itu sapi potong, sapi kerja, maupun sapi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *